Desa Mazingo Tanose’o dipilih sebagai desa kedua tempat pelaksanaan Inovasi Gema Mentik. Hal ini dikarenakan kasus Demam Berdarah Dengus (DBD) di desa ini menjadi yang tertinggi dari semua desa di wilayah kerja UPTD Puskesmas Hiliduho. Kasus DBD di desa.ini mengalami peningkatan pada akhir tahun dan awal tahun pada 2 (dua) tahun terahir sehingga di tahun 2026 dipilih sebagai salah satu tempat implementasi inovasi Gema Mentik.
Secara geografis desa ini merupakan perbatasan antara Kecamatan Hiliduho dengan Kota Gunungsitoli sehingga mobilitas penduduk dari dan ke Gunungsitoli cukup tinggi. Hal ini secara epidemiologi menjadi faktor resiko penularan penyakit DBD. Selain itu mayoritas Masyarakat menggunakan PAH (Penampungan Air Bersih) sebagai sumber air bersih yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes Aegypti. Hal ini semakin berkembang karena masyarakat juga kurang menjaga kebersihan lingkungannya.
Menindaklanjuti hal tersebut, pada Mei 2026 staf Puskesmas Hiliduho bersama bidan desa melakukan diskusi dengan Kepala desa dan aparat desa untuk mencari solusi bersama. Hasil pertemuan tersebut disepakati akan dilakukan pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan untuk penerapan inovasi gema mentik ini. Dusun 4 dipilih sebagai sampel penerapan inovasi ini.
Pertemuan selanjutnya dilaksanakan pada Juni 2026 Kepala UPTD Puskesmas Hiliduho yang diwakilkan oleh Staff UPTD Puskesmas Hiliduho menyampaikan tujuan dan agenda pemberdayaan kader untuk menurunkan kasus penyakit menular dan tidak menular di desa Mazingo Tanose’o, dengan memberdayakan kader dalam mengajak masyarakat merubah perilaku agar menerapkan PHBS khususnya pada pemantauan Jentik nyamuk DBD.
Sesi selanjutnya staf Puskesmas memberikan sosialisasi tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada kader dan dilanjutkan oleh sanitarian menyampaikan tentang Inovasi Gema Mentik sebagai bentuk Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menggunakan perangkap nyamuk yang disebut Ovitrap. Implementasi dari inovasi ini bertujuan untuk menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti agar tidak terjadi penularan penyakit DBD di masyarakat.
Pada pertemuan tersebut para kader diajari untuk membuat alat ovitrap dari alat-alat sederhana seperti gelas air mineral bekas, stik es krim dll. Selanjutnya dibagi tim untuk berpencar meletakkan alat tersebut di semua rumah warga di dusun 4. Untuk dusun lainnya diambil beberapa rumah sebagai sampel.
Seminggu kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi oleh. staf puskesmas, perangkat desa beserta kader untuk memantau hasil penggunaan alat tersebut. Kader melakukan pencatatan dan edukasi kepada Masyarakat terutama kepada warga yang di rumahnya ditemukan jentik nyamuk.selanjutnya dilakukan pertemuan. Para kader bergiliran menyampaikan hasil yang mereka dapatkan. Dari hasil monitoring ditemukaan beberapa rumah yang terdapat telur nyamuk. Di akhir kegiatan disampaikan agar alat ovitrap ini tetap digunakan dan para kader juga tetap melakukan monitoring sehingga terjadi penurunan populasi nyamuk Aedes yang berdampak pada penurunan kasus DBD.
